Selain menumbuhkan sektor UKM dan pariwisata melalui kreativitas, inovasi, dan usaha bagi masyarakat di kawasan desa wisata, pendirian kampung kreatif itu, tidak lain sebagai upaya pemerintah provinsi (Pemprov) untuk melepaskan masyarakat dari praktek rentenir ungkap Faozal. “Kami ingin akses ibu-ibu yang berjualan di desa wisata Sesaot tidak terikat pada praktek pinjaman di luar nalar dengan bunga sampai 70 persen. Tetapi, dengan ada kampung kreatif ini masyarakat bisa secara mudah memperoleh bantuan melalui KUR dari perbankan,” jelasnya. Untuk mengembangkan kampung kreatif ini, Pemprov NTB, kata Faozal, menggandeng Bank Rakyat Indonesia (BRI) yang nantinya memberikan kemudahan dan fasilitas pelayanan KUR. Termasuk, melakukan pembinaan kepada para pelaku usaha di kawasan wisata alam Desa Sesaot, Kabupaten Lombok Barat. “Jadi kampung kreatif ini kami beri nama kampung kreatif Sekawan (Desa Sesaot, Desa Pakuan dan Desa Buwun Sejati),” katanya.