Mataram, 03/12/2017 – Kementerian Pariwisata melalui Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Mancanegara Kemenpar RI bersama Dinas Pariwisata Provinsi Nusa Tenggara Barat menggelar Rapat Strategi Antisipasi Dampak Erupsi Gunung Agung yang dihadiri oleh seluruh Stakeholder pariwisata di pulau Lombok.

Dalam sambutannya kepala Dinas Pariwisata Provinsi NTB menyampaikan harapannya agar seluruh stake holder saling bahu membahu dalam menjalankan kegiatan kepariwisataan. Dampak erupsi gunung agung yang melanda pulau bali tentunya berdampak pada angka kunjungan wisatawan yang menurun dan banyaknya cancel room pada beberapa hotel yang ada di pulau Lombok hingga 40%. Harapan kepala dinas dalam sambutannya menyampaikan bahwa target angka kunjungan wisatawan yang di targetkan hampir mencapai target. “Kondisi erupsi ini bisa berdampak pada target kunjungan wisatawan ke NTB yang dicanangkan mencapai 3,5 juta wisatawan pada 2017, yang mana baru tercapai 80% dari total kunjungan.” Ujarnya

Gambar : Kadispar Prov NTB saat menyampaikan sambutan

Selain itu Dinas Pariwisata juga telah membuat Informasi pengaduan terkait erupsi gunung agung di beberapa titik diantaranya di kantor Dinas Pariwisata Provinsi NTB, Bandara Lombok International Airport, Aruna Senggigi, Pelabuhan Lembar.

Masyarakat dihimbau bagaimana memberikan pelayanan yang prima kepada seluruh wisatawan, agar memberikan citra yang baik pada sektor kepariwisataan di nusa tenggara barat dan terus meningkatkan kualitas dan mendorong pembangunan sektor kepariwisataan yang ada sehingga daerah nusa tenggara barat mampu menangani beragam masalah yang dapat menghambat segala kegiatan kepariwisataan. Ujar Sekretaris Daerah Provinsi NTB.

Prof. Dr. I Gde Pitana M.Si selaku Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Mancanegara Kementerian Pariwisata menyampaikan bahwa dalam membangun kepariwisataan di Indonesia(selalu mengikuti perkembangan kepariwisataan di berbagai daerah melalui media social).

Gambar : Prof. Dr. I Gde Pitana M.Si saat menyampaikan paparannya

Terdapat tiga tahap pengelolaan mitigasi krisis pariwisata diantaranya :

  1. Tahap tanggap darurat yaitu bagaimana kita mampu mengatasi dengan sigap setiap permasalahan yang timbul di sector pariwisata.
  2.  Tahap rehabilitasi adalah bagaimana dan apa yang harus kita lakukan.
  3.  Tahap normalisasi adalah bagaimana kita mengembalikan kepercayaan pasar pasca bencana yang di hadapi dengan cepat dan tanggap.

Dari semua mekanisme kerja yang kita kerjakan faktor yang menjadi kelemahan kita semua adalah komunikasi,
dimana yang menjadi musuh utama dalam komunikasi adalah banyaknya informasi informasi yang masih bertentangan dengan kejadian sebenarnya (Hoax).

Oleh sebab itu kita harus lebih tanggap dalam memviralkan kejadian –kejadian yang sebenarnya, sehingga tidak akan berdampak pada image dari suatu daerah yang di beritakan. Apapun yang di mediasosialkan berkaitan dengan bencanaya itu bersumber dari satu sumber yang terpercaya(source of information)dan juga di dalam memberikan informasi harus bersifat authorize, reliable, update.

Gambar : Suasana Rapat Strategi Antisipasi Dampak Erupsi Gunung Agung

BACA JUGA :