Kemenparekraf/Baparekraf RI melalui Direktorat Akses Pembiayaan Deputi Bidang Industri dan Investasi menyelangarakan sosialisasi kegiatan Fintech Business Matchmaking (Finback) di Hotel Lombok Astoria, Mataram, Senin (5/4/21), yang dilaksanakan secara hybird bagi para pelaku UMKM.

Khususnya di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Kegiatan ini dilakukan sebagai salah satu upaya memulihkan perekonomian Indonesia yang masih dilanda pandemi Covid-19 sehingga berdampak pada ketidaksetabilan ekonomi, tidak terkecuali pada sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.

Selain itu, salah satu permasalahan yang banyak dihadapi oleh para pelaku usaha pariwisata dan ekonomi kreatif yaitu ketika menjalankan usaha tidak visible dan bankable sehingga tidak dapat mengajukan pembiayaan ke perbankan.

Untuk itu Kemenparekraft/Baparekraf RI mensosialisasikan alternatif sumber pembiayaan selain perbankan yaitu melalui layanan Fintech Peer to Peer Lending untuk membantu para pelaku usaha sektor pariwisata dan ekonomi kreatif agar dapat mengembangkan usaha, hususnya di masa pandemi Covid-19 saat ini.

Pada 2020 ini industri teknologi finansial/ Fintech telah mampu memberikan konstribusi positif bagi perekonomian Indonesia dan meningkatkan akses pembiayaan kepada masyarakat dengan penyaluran pembiayaan mencapai Rp128,7 triliun atau meningkat 113 persen year-on year.

Hingga September 2020, terdapat 89 penyelengaraan fintech yang berkonstribusi sebesar Rp9,87 triliun pada tranaksi layanan jasa keuangan Indonesia dan sebanyak Rp15,5 Triliun disalurkan penyelenggara fintech equity crowdfunding yang telah berizin dari OJK. Hal Ini menunjukan perkembangan yang luar biasa

“Semoga melalui kegiaatan Fintech Business Matchmaking atau finback ini, para peserta dapat memahami bagaimana cara mengakses pembiayaan layanan fintech peer to peer lending, serta mereka mampu mengetahui kapabilitas dalam mengidentifikasi bisnisnya agar dapat meningkatkan asset dan pendapatan bagi pelaku usaha khususnya di masa pandemi Covid-19 saat ini,” jelas Direktur Akses Pembiayaan Kemenparekraf/Baparekraf RI, Hanifah Makarim saat membuka secara resmi kegiatan finback di Mataram.

Sementara, Panitia Penyelenggara kegiatan Finback. Indriani D. Laratu selaku Subkoordinator Pembiayaan Teknologi Finansial Kemenparekraf/Baparekraf RI mengatakan bahwa saat ini Finback masih terfokus pada beberapa sub sektor seperti pariwisata serta beberapa sektor ekonomi kreatif seperti kuliner, fesyen dan kriya, dikarenakan potensi sub sektor tersebut saat ini menunjukkan trend positif dan terus meningkat setiap tahunnya.

Pada pelaksanaan Finback 2021 kali ini, peserta yang hadir secara offline sangat dibatasi dengan pertimbangan masih tingginya penyebaran covid-19.

“Seluruh peserta harus melakukan protocol kesehatan sesuai standar yang ditetapkan pemerintah pada masa pandemi, seperti melakukan rapid test terlebih dahulu sebelum menghadiri kegiatan ini,” ujarnya.

Proses diskusi berjalan cukup seru, dengan tema yang menarik. Pembicara yang hadir, dari perwakilan pemerintah yaitu Hanifah Makarim, Direktur Akses Pembiayaan Kemenparekraf/Baparekraf RI, Lalu Hasbulwadi, Sekretaris Dinas Pariwisata NTB, serta perwakilan dari dua Platform Fintech peer t0 peer lending yang telah terdaftar dan berizin dari OJK, yaitu Valtala Leifyumna, Senior Strategic Communcation Koinwork (via zoom) dan Achmad Fauzi Bahanan, Vice President of Funding ALAMI (Fintech Syariah).

Kegiatan ini dirasakan sangat bermanfaat oleh seluruh peserta karena dapat mempertemukan pebisnis/pengusaha dengan calon investor atau partner yang memberikan dampak pada peningkatan asset, pendapatan, daya saing yang berkualitas dan berpengaruh terhadap eksistensi sektor pariwisata dan produk kreatif di Mataram melalui pembiayaan plaform fintech peer to peer lending yang telah terdaftar dan berizin dari OJK. (LI/aa)

Sumber : https://bit.ly/2Q2Z6q0

Kategori: Berita Media

admin

Dinas Pariwisata Provinsi Nusa Tenggara Barat Membangun pariwisata yang berwawasan lingkungan untuk mencapai Pembangunan Kepariwisataan yang Beberlanjutan (Sustainable Tourism).