bau nyale 2015Agenda tahunan Bau Nyale 2015 sukses menyedot animo masyarakat. Ribuan orang memadati Pantai Seger semenjak sore. Mereka berduyun-duyun menuju panggung utama sembari menunggu nyale keluar. Bau Nyale dipercaya sebagai jelmaan Putri Mandalika, legenda masyarakat Lombok Tengah. Puncak acara Festival Bau Nyale diselenggarakan di Pantai Seger, Kuta Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat 9-10 Februari 2015. Serangkaian acara telah dilaksankan oleh Pemkab Lombok Tengah dimulai dari 1 Februari hingga puncaknya dinihari 10 Februari 2015. Dalam rangkaian Core Event Bau Nyale 2015 juga di gelar pemilihan Putri Mandalika 2015. Setelah menjaring sekitar 40-an peserta, Putri Mandalika 2015 resmi dinobatkan kepada Baiq Laksmi Yudia Lestari. Selain itu, agenda tahunan ini juga diisi oleh penampilan band Ungu. Tampil sekitar 10 lagu, Ungu tampil memukau sekitar 15 ribu wisatawan yang hadir di Pantai Seger. Ungu membawakan lagu antara lain I Need You, Saat Bahagia, Percaya Padaku, dan Seperti Yang Dulu. Pasha, pentolan Ungu terlihat beberapa kali menyapa penontonnya, Ia memberikan apresiasi kepada Kabupaten Lombok Tengah dan mengajak seluruh masyarakat Lombok Tengah untuk terus menjaga tradisi leluhur, agar Bau Nyale tetap ada dan tidak punah tergerus oleh zaman.

Sebelum memulai aktivitas Bau Nyale, terlebih dulu dilaksanakan upacara ritual oleh para pemangku adat Sasak yaitu “Nende Ayu Ayuning Jagad”. Ini dilakukan guna mengharap Putri Mandalika muncul ke permukaan laut.
Pemkab Lombok Tengah sebagai tuan rumah juga menyajikan Drama Kolosal Putri Mandalika, dimana diceritakan kisah tragis Putri Mandalika yang bingung memilih pujaan hatinya.

Dalam drama kolosal tersebut diceritakan hiduplah seorang putri cantik di wilayah selatan Lombok Tengah. Ia adalah anak dari Raja Tojang Beru yang arif dan bijaksana. Kecantikan dan keramahan putri tersebut sudah terkenal ke penjuru dunia. Untuk menentukan siapa yang bisa menikahi putri cantiknya, sang raja membuat sayembara yang diikuti oleh beberapa pangeran tampan dari beberapa kerajaan. Namun putri galau menentukan pilihannya.
Setelah berpikir lama dan bingung mau memilih siapa diantara pangeran, Putri Mandalika akhirnya memutuskan untuk tidak memilih salah satu dari para pangeran tersebut. Hal ini dilakukan agar tidak terjadi perseteruan antar pangeran, dan untuk menghilangkan rasa malu Putri Mandalika  melompat ke laut dari sebuah bukit yang ada di pinggir Pantai Seger. Seluruh keluarga dan rakyatnya tidak menemukan sang putri, tapi beberapa saat kemudian muncul cacing laut yang ditangkap oleh rakyatnya. Peristiwa tersebut terjadi pada  tanggal 20 bulan ke-10 kalender sasak. Inilah yang menjadi dasar legenda Putri Mandalika diadakan setiap tahunnya.

Haji Lalu Putrie, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kab. Lombok Tengah usai pegelaran Drama Kolosal dan Tari Mandalika, mengharapkan masyarakat bisa memetik hikmah dari cerita drama tersebut. Ini juga mengingatkan kepada kita dan para pemimpin kita arti sebuah pengabdian dan pengorbanan, baik bagi masyarakat maupun bangsa dan Negara. Ia juga mengucapkan terimakasih kepada seluruh wisatawan yang hadir mensukseskan Festival Bau Nyale, baik masyarakat Lombok Tengah pada khususnya, maupun masyarakat  NTB pada umumnya, atau para wisatawan mancanegara yang sudah hadir di Bumi Tatas Tuhu Trasna.

Masyarakat dan Wisatawan yang hadir, baik tua maupun muda, laki dan perempuan, bercampur menjadi satu dalam kerumunan ribuan orang yang memadati Pantai Seger. Mereka rela menahan kantuk semalam suntuk demi mendapatkan cacing yang hanya muncul sekali setahun ini. Mereka membawa peralatan seperti jaring, senter, botol bekas minuman kemasan atau ember untuk menampung nyale. Nyale dipercaya bisa mendatangkan kesejahteraan bagi masyarakat.

Nyale keluar mulai dari dinihari hingga saat matahari terbit. Hujan rintik, petir dan angin keras dipercaya sebagai pertanda Nyale akan muncul. Terangnya cahaya rembulan menambah eksotis bau nyale ini. Terlihat beberapa turis mancanegara berbaur dengan ribuan masyarakat ikut turun ke laut menggunakan senter dan membawa jaring guna mendapatkan cacing yang berwarna warni tersebut.

Nyale sendiri ditangkap di beberapa tempat di sepanjang pesisir pantai selatan Pulau Lombok, antara lain Pantai Kaliantan, Kuta, Selong Belanak dan Mawun.

BACA JUGA :