21 Oktober 2020 – Kepala Dinas Pariwisata Provinsi NTB yakni Bapak Lalu Moh. Faozal menghadiri Focus Group Discussion Dampak Pemebatalan Festival Terhadap Perekonomian Indonesia, yang berlangsung di Hotel Lombok Astoria.

Adapun tujuan diadakannya kegiatan ini untuk mengukur mengenai dampak dari pembatalan festival/event, baik dampak langsung maupun tidak langsung, yang dapat memberikan rekomendasi kebijakan dan evaluasi program pemerintah, terutama di bidang ekonomi kreatif. seperti data yang tercatat, dalam empat tahun terakhir, sektor pariwisata berkembang signifikan. Hal ini terbukti dengan adanya tren positif dari kontribusi sektor pariwisata terhadap PDB tahun 2015-2016.

Menurut catatan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, kontribusi sektor pariwisata terhadap PDB pada tahun 2015 sebesar 4,25 persen. Angka tersebut meningkat menjadi 4,8 persen pada tahun 2019. Sejalan dengan hal tersebut, penyerapan tenaga kerja sektor pariwisata juga kian meningkat. Berdasarkan data Kemenparekraf, penyerapan tenaga kerja sektor pariwisata

mencapai 12,7 juta orang atau sekitar 10 persen dari total penduduk Indonesia yang bekerja. Selain itu, perkembangan sektor pariwisata ini juga dapat mendorong semakin bertumbuhnya berbagai sarana dan prasarana penunjang pariwisata seperti akomodasi, transportasi, rumah makan, tempat hiburan, toko cinderamata, dsb.

Indonesia sangat kaya akan destinasi wisata, mulai dari wisata bahari, budaya, religi, dsb. Untuk menarik minat para wisatawan, pemerintah melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) menyelenggarakan berbagai festival/event baik dalam skala lokal maupun skala nasional. Biasanya Kemenparekraf bekerja sama dengan berbagai pihak untuk menyelenggarakan festival/event tersebut.

Pada tahun 2020, dunia dilanda wabah pandemi COVID-19 termasuk Indonesia. Sejak 11 Maret 2020, Badan Kesehatan Dunia atau WHO menetapkan COVID-19 sebagai pandemi global. Untuk itu, Indonesia merespon ketetapan pandemi tersebut dengan menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di beberapa daerah yang sudah terinfeksi COVID-19.

Dengan kondisi seperti ini, sektor pariwisata merupakan salah satu sektor yang yang terdampak dari pembatasan kegiatan masyarakat, mengingat pariwisata berasosiasi dengan adanya kerumunan. Hal ini tercermin dengan dibatalkannya beberapa festival/event guna menekan penularan COVID-19. Padahal festival/event tersebut sangatlah menarik banyak wisatawan datang yang pada akhirnya dapat berpotensi mempengaruhi perekonomian.

Mengingat hal tersebut, diperlukan adanya studi yang mengukur mengenai dampak dari pembatalan festival/event, baik dampak langsung maupun tidak langsung, yang dapat memberikan rekomendasi kebijakan dan evaluasi program pemerintah, terutama di bidang ekonomi kreatif.

Untuk itu, Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia bekerja sama dengan Kemenparekraf bermaksud mengadakan studi “Dampak Pembatalan Festival terhadap Perekonomian Indonesia”. Untuk melengkapi data studi tersebut, kami bermaksud mengadakan Focus Group Discussion (FGD) dengan para pemangku kebijakan di daerah terkait dampak pembatalan festival yang terjadi akibat Pandemi COVID-19.


admin

Dinas Pariwisata Provinsi Nusa Tenggara Barat Membangun pariwisata yang berwawasan lingkungan untuk mencapai Pembangunan Kepariwisataan yang Beberlanjutan (Sustainable Tourism).