Tanggal 8 Maret 2016, diperingati sebagai Hari Perempuan Internasional. Hal tersebut dibuat untuk merayakan keberhasilan para perempuan di bidang ekonomi, sosial, politik, dan pendidikan di seluruh dunia.

Beberapa peristiwa yang menjadikan tanggal tersebut diperingati sebagai Hari Perempuan Internasional terjadi saat memasuki dan pada awal Abad ke-20.

Pada 8 Maret 1857, para buruh perempuan dari pabrik pakaian dan tekstil mengadakan protes di kota New York. Mereka melakukan unjuk rasa karena kondisi kerja yang sangat buruk dan gaji yang rendah

Kisah lainnya terjadi pada 1911, di mana kebakaran Pabrik Triangle Shirtwaist di New York mengakibatkan 140 orang perempuan kehilangan nyawanya. Peristiwa-peristiwa tersebut yang menjadikan 8 Maret sebagai Hari Perempuan Internasional.

Namun, kebangkitan perempuan bukan hanya ditunjukkan melalui unjuk rasa atau hanya sekedar peringatan tentang peristiwa tertentu. Tak hanya kaum lelaki saja yang mampu berkontribusi dalam bidang ilmu pengetahuan di dunia, ternyata beberapa perempuan juga dikenal sebagai ilmuwan yang berpengaruh.

Mulai dari penemuan polonium dan radium hingga peneliti kanker serta kemoterapi, ternyata di baliknya terdapat perempuan hebat. Seperti yang dikutip dari CNN pada Selasa (8/3/2016), berikut adalah 19 Ilmuwan Perempuan yang Berpengaruh dalam Sejarah.

1. Chien-Shiung Wu (1912-1997)

Fisikawan China-Amerika tersebut berfokus pada penelitiannya tentang eksperimen fisika dan radioaktivitas. Dia dikenal karena karya Manhattan Project, yang menghasilkan senjata nuklir pertama selama Perang Dunia II. Ia juga mempunyai julukan ‘First Lady of Physics’, ‘Chinese Marie Curie’, dan ‘Madame Wu’.

2. Marie Curie (1867-1934)

Fisikawan asal Prancis yang lahir di Polandia, Marie Curie, merupakan penemu polonium dan radium. Karyanya sebagai ‘jalan pembuka’ ditemukannya X-ray. Dia juga perempuan pertama yang memenangkan Nobel dan masuk ke dalam dua kategori sekaligus, yaitu fisika dan kimia.

3. Alice Hamilton (1869-1970)

Alice Hamilton merupakan pelopor bidang toksikologi dari Amerika. Ia meneliti tentang efek dari racun timbal pada buruh pabrik, mengisolasi wabah tipus pada 1902, dan meminjamkan keahliannya untuk menindak tegas penjualan kokain pada anak-anak di Chicago. Selain itu, iia juga merupakan perempuan pertama yang menjadi mahasiswa Harvard Medical School.

4. Lisa Meitner (1878-1968)

Perempuan berkebangsaan Austria tersebut merupakan anggota kunci dari kelompok kecil ilmuwan yang menemukan fusi nuklir.

5. Hilde Mangold (1898-1924)

Embriologis asal Jerman, Hilde Manglod, bersama dengan Hans Spermann, menemukan penyusun embrio. Karyanya menuntun pemahaman lebih jauh mengenai pola pembedaan embrio dalam amfibi dan menjadi fondasi dari percobaan embriologi.

Pada 1935, Spermann memperoleh Nobel dalam bidang Fisiologi atau Kedokteran atas penemuan yang mereka lakukan.

6. Rachel Carson (1907-1964)

Ilmuwan Biologi Laut, pecinta lingkungan asal Amerika, dan juga seorang penulis tersebut bernama Rachel Carson. Setelah Perang Dunia II, dia berfokus dengan memperingatkan masyarakat tentang efek jangka panjang dari penyalahgunaan pestisida.

Bukunya yang berjudul Silent Spring dan karyanya yang lain, menantang praktek yang dilakukan ilmuwan pertanian dan ia dikenal sebagai orang yang memajukan gerakan lingkungan di seluruh dunia.

7. Rita Levi-Montalcini (1909-2012)

Neurosaintis asal Italia, Rita Levi-Montalcini dikenal atas karyanya di bidang neurobiologi. Bersama dengan Stanley Cohen, ia memenangkan hadiah Nobel pada 1968 dalam bidang Fisiologi atau Kedokteran.

Rita memenangkan Nobel atas penemuannya di bidang faktor-faktor penyebab tumbuhnya syaraf dan protein yang berfungsi untuk mengontrol pertumbuhan dan perkembangan. Ia merupakan pemenang Nobel tertua dan ilmuwan pertama yang dapat mencapai umur 100 tahun.

8. Virginia Apgar (1909-1974)

Ilmuwan Amerika-Armenia yang mempelopori ilmu anastesi, Virginia APgar, membentuk APGAR score (Apperance, Pulse, Grimace, Activity, Respiration), yang dikenal sebagai sistem untuk mengevaluasi kesehatan bayi yang baru lahir. APGAR score pertama kali dipakai di AS, dan sistem tersebut mulai diadopsi banyak wilayah di dunia.

9. Gertrude B. Elion (1918-1999)

Seorang ahli biokimia asal Amerika, Gertrude B. Elion, membantu menciptakan banyak obat, termasuk yang digunakan untuk mengobati malara, herpes, meningitis dan leukimia. Pada 1988, Elion berserta dua temannya, George Hitching dan Sir James Black, memperoleh hadiah Nobel di bidang Fisiologi atau Kedokteran karena penelitiannya dan wawasan mengenai prinsip-prinsip perawatan dengan menggunakan obat.

10. Jane C. Wright (1910-2013)

Fisikawan asal Amerika tersebut merupakan perempuan yang meneliti hubungan antara pasien dan respon kultur jaringan. Dari hal itu, ia membuat kemoterapi sebagai perawatan untuk penderita kanker. Jane juga menjabat sebagai direktur dari Cancer Research Foundation di Harlem Hospital pada umur 33.

11. Rosalind Franklin (1920-1958)

Ilmuwan Kimia asal Inggris, yang juga merupakan peneliti kristalografi dan biofisikawan, Rosalind Franklin, merupakan perempuan pertama yang berhipotesa dan menunjukkan struktur double helix dari DNA melalui difraksi X-ray.

12. Stephanie Kwolek (1923-2014)

Ilmuwan kimia Amerika tersebut dianugerahi DuPont Company’s Lavoisier Medal karena pencapaian yang luar biasa pada 1995. Karirnya di perusahaan tersebut berlangsung selama 40 tahun dan ia dikenal sebagai penemu Kevlar, plastik sangat kuat yang dapat dijadikan pengganti strip baja tulangan pada 1965.

13. Jane Goodall (81 tahun)

Ilmuwan Inggris yang meneliti tentang primata, Jane Goodall, dikenal sebagai perempuan yang melakukan penelitian jangka panjang pada simpanse liar di Tanzania. Dia membentuk Jane Godaal Institute Research Center di Taman Nasional Gombe dan merupakan proyek penelitian mengenai alam liar terlama yang sampai saat ini masih berlangsung.

14. Margaret Chan (68 tahun)

Fisikawan Hong Kong, China, dan Kanada, Maragaret Chan OBE, merupakan dirketur utama dari Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO. Ia memulai karirnya di bidang kesehatan masyarakat dengan menjabat sebagai Kepala Departemen Kesehatan Hong Kong pada 1994.

Tiga tahun kemudian, dia menangani wabah flu burung (H5N1) dan di tahun 2003 secara sukses memerangi SARS di Hong Kong.

15. France A. Córdova (68 tahun)

Ia merupakan Ilmuwan Astrofisika asal Amerika dan juga Pemimpin dari National Science Foundation. Ia diangkat ke posisi tersebut setelah bekerja sebagai peneliti X-ray dan sinar gamma yang sumbernya berasal dari pulsar.

Córdova merupakan perempuan pertama dan termuda yang menjabat sebagai kepala peneliti di NASA dari 1993 hingga 1996. Ia juga diberi penghargaan tertinggi NASA, the Distinguished Service Medal.

16. Fabiola Gianotti (53 tahun)

Ilmuwan partikel fisika asal Italia, Fabiola Gianotti, merupakan perempuan pertama yang menjabat sebagai pemimpin umum dari European Organisation for Nuclear Research (CERN). Ia juga memimpin institusi tersebut selama penemuan Higgs boson–sebuah partikel subatomik yang ada di dalam ruang atom dan di dunia mikrokosmik dinamakan dunia mekanika quantum– yang merupakan bagian dari eksperimen ATLAS.

17. Cori Bargmann (55 tahun)

Ilmuwan neurobiologi asal Amerika, Cornella Bargmann, merupakan peneliti dari Howard Hughes Medical Institute. Dia dikenal atas karyanya tentang tingkah laku C.elegans, atau cacing gelang, yang dia gunakan untuk mengkarakterisasi gen dan jalur saraf yang memungkinkan sistem saraf untuk menghasilkan perilaku variabel. Karyanya membuat ia terpilih menjadi National Academy of Sciences.

18. Nina Tandon (36 tahun)

Perempuan asal Amerika itu merupakan CEO dan co-founder dari EpiBone, perusahaan pertama di dunia yang dapat membuat tulang manusia tumbuh kembali untuk tujuan rekonstruksi rangka. Dia juga merupakan Profesor Teknik Listrik di Cooper Union dan juga pernah menjadi staf asosiasi peneliti postdoktoral di Columbia Univeristy.

19. Elizabeth Holmes

Imuwan asal Amerika tersebut merupakan miliarder termuda yang kekayaannya ia dapatkan dari usahanya sendiri. Holmes mendirikan perusahaan pendiagnosa darah yang revolusioner bernama Theranos.

Di perusahaan yang dibentuknya, dapat menggunakan setetes darah sebagai alat diagnosa yang hasilnya sama jika menggunakan darah dengan volume di botol kecil.

Terbukti, perempuan juga hebat!

Sumber: Global Liputan6.com

BACA JUGA :