buku panduan Tambora 3_1

Tambora Menyapa Dunia Tahun 2015 merupakan peringatan 200 tahun meletusnya Gunung Tambora tahun 1815 yang terjadi dua abad lampau, terekam dalam sejarah manusia sebagai salah satu letusan terdahsyat yang pernah terjadi di muka bumi. Gunung Tambora terletak di sebuah pulau yang berada di gugusan Kepulauan Sunda Kecil yang bernama Sumbawa. Menurut seorang Ahli Gunung Api dari Universitas Rohde Island, Haraldur Sigurdson inilah erupsi yang paling banyak di teliti dalam sejarah.

Berdasarkan hasil penelitian Letusan Gunung Tambora sepuluh kali lebih dahsyat dibanding letusan Krakatau dan seratus kali lebih besar dari letusan Gunung Vesuvius dan St. Helens. Sekitar 100 ribu orang menjadi korban akibat letusan ini, tiga kerajaan terkubur dalam timbunan erupsi yaitu Kerajaan Tambora, Kerajaan Pekat dan Kerajaan Sanggar. Sidgurdsson mengatakan bahwa material erupsi naik hingga 43 km ke atmosfir,  bayangkan ketinggian ini sekitar 10 kali lebih tinggi dari ketinggian pesawat terbang komersial, mengeluarkan batuan panas cair dalam bentuk abu dan batu apung dengan volume 100 km3. Jumlah tersebut jauh lebih besar dibanding volume erupsi vulkanik lainnya yang direkam dalam sejarah manusia.

Sejarah kedahsyatan Tambora dimulai ketika tahun 1812, kaldera Tambora bergemuruh dan mengeluarkan awan hitam. Pada 5 April 1815, letusan dengan kekuatan sedang terjadi, diikuti dengan bunyi letusan menggelegar. Pada pagi hari 6 April 1815 debu vulkanik jatuh di Jawa Ti mur yang di iringi suara samar seperti dentuman detonator dan berlangsung hingga 10 April 1815. Pada tanggal 10 dan 11 April 1815 di Pulau Sumatra (jarak dari Tambora sekitar 2600 km) suara yang terdengar seperti letusan senjata api, demi kian kira-kira kronologis kedahsyatan letusan Gunung Tambora yang terekam dari cerita

Letusan ini menghasilkan awan panas sekitar 400 juta ton diantaranya bumi tidak mengalami musim panas dalam tahun itu. Kejadian ini di kenal dengan istilah “Year Without Summer”.  Ketika gas bereaksi dengan kandungan air di atmosfir, reaksi menghasilkan kelam di ufuk. Sinar senja langit muncul oranye atau merah dekat cakrawala langit merah muda dan warna jingga. Di London, antara 28 Juni sampai 2 Juli 1815 serta 3 September sampai 7 Oktober 1815, orang-orang melihat sinar matahari berwarna-warni saat tenggelam di ufuk. Sinar matahari pada senja hari terlihat oranye, hal demikian terpapar di cakrawala, langit terlihat merah muda mendekati jingga.

Gunung Tambora sebagai warisan dunia dengan sejarah kedahsyatan letusannya kini telah menjadi epic. Dua abad sudah peristiwa dahsyat tersebut berlalu. Tambora telah menorehkan sejarah dahsyat dan merubah tatanan masyarakat serta alam pada waktu itu. Cerita epic tersebut kini sangat menarik perhatian ilmuwan dari berbagai disiplin ilmu untuk mengkaji ulang melalui serangkaian penelitian dan penelusuran literature, untuk mempertautkan potongan-potongan cerita dari mulut ke mulut dan manskrip yang ditemukan. Serangkaian penelitian Arkeologis dan Vulkanologis mengawali pembuktian secara ilmiah epic tersebut.

Demikian cerita singkat Tambora…

BACA JUGA :