Badan Ekonomi Kreatif Indonesia (BEKRAF) mendukung acara Echelon Indonesia yang diselenggarakan Daily Social dan e27, hari ini (5/4/2016).

Dukungan yang diberikan BEKRAF terlihat saat pembukaan acara yang berlangsung di Balai Kartini tersebut melalui wakil kepala BEKRAF Ricky Pesik.

Dalam sambutannya, Ricky menyebutkan, sebagai institusi baru yang diberi tugas langsung oleh Presiden untuk meningkatkan pendapatan di bidang industri kreatif, BEKRAF membawahi 16 subsektor industri kreatif.

Ke-16 subsektor yang dimaksud adalah aplikasi dan gim, arsitektur, desain interior, desain komunikasi visual, desain produk, fesyen, film, fotografi, industri kerajinan tangan (craft), kuliner, musik, penerbitan, periklanan, seni pertunjukan, seni rupa, televisi, dan radio.

“BEKRAF dibentuk Januari 2015, dan sebagai lembaga, kami beroperasi mulai September 2015. Kami diberi tanggung jawab oleh presiden untuk mencapai tiga target hingga masa pemerintahan Presiden Joko Widodo pada 2019,” tutur Ricky saat memberikan sambutan.

Adapun ketiga target tersebut di antaranya untuk meningkatkan kontribusi sebesar 12 persen terhadap sektor ekonomi kreatif pada Produk Domestik Bruto (GDP). Saat ini, kontribusi ekonomi kreatif pada GDP baru sebesar 7 persen.

“Target kedua adalah peningkatan jumlah tenaga kerja di sektor ekonomi kreatif menjadi 13 juta,” kata Ricky menjelaskan.

Sementara target selanjutnya adalah kontribusi sektor ekonomi kreatif terhadap ekspor harus mencapai 10 persen pada 2019. Ricky yakin BEKRAF dapat mencapai target-target tersebut.

Untuk mencapai target tersebut, beberapa program dilakukan BEKRAF dalam bidang teknologi seperti meluncurkan inisiatif terkait dengan kegiatan ibu rumah tangga di bidang coding (coding moms) dan persiapan integrasi startup dengan program BEK UP yang akan diluncurkan presiden Joko Widodo.

“Kami membantu menciptakan ekosistem yang lebih baik terhadap sektor pengembangan teknologi. Seperti tema Echelon Indonesia, Empowering through Innovation, tugas BEKRAF adalah untuk memberikan masukan-masukan terkait pengambilan kebijakan ekonomi makro tentang regulasi baru atau pencabutan regulasi yang menghambat inovasi,” ujar Ricky. ⁠⁠⁠(Tin/Why)

Sumber: Tekno Liputan6.com

BACA JUGA :