Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (PDTT) RI, Eko Putro Sandjojo bersama wakil gubernur Nusa Tenggara Barat Hj.Sitti Rohmi Djalillah secara resmi melaunching 100 Desa Wisata di Nusa Tenggara Barat dan E-tiketing pada desa wisata.

Dalam sambutannya Wakil Gubernur yang akrab disapa Umi Rohmi ini menerangkan bahwa desa-desa yang ada di NTB sudah banyak mengalami perkembangan terlebih lagi setelah pariwisata NTB semakin menggeliat pesat, dan pengembangan Desa wisata ini juga masuk ke dalam visi dan misi Gubernur dan Wakil Gubernur NTB. Rohmi juga berharap dengan di launchingnya Desa Wisata ini dapat memberikan semangat bagi desa desa lain agar lebih giat dan inovatif dalam membangun dan mengembangkan kepariwisataan di seluruh pelosok Daerah Nusa Tenggara Barat “semoga seluruh kepala desa dan masyarakat di NTB dapat bersama-sama membangun desa agar tercapainya NTB Gemilang, dan E-tiketing ini tidak hanya sampai disini saja, harus benar-benar serius untuk direalisasikan di kawasan pariwisata” ucap Rohmi.

Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (PDTT) RI, Eko Putro Sandjojo juga mendorong para Kepala Desa (Kades) untuk berkreasi dan berinovasi dalam pelakukan pembangunan di desa. Menurut Menteri Eko Dana Desa yang digelontorkan pemerintah saat ini masih terfokus untuk pembangunan infrastruktur yang diharapkan menunjang pembangunan perekonomian di desa.”Banyak cara yang bisa dilakukan oleh Kepala Desa untuk pengadaan lapangan desa, misalnya lapangan sepak bola, futsall dan sebagainya. Karena itu, kami mendorong para Kepala Desa untuk kreatif dan inovatif,” Dana Desa yang digelontorkan oleh pemerintah pusat dibawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo selama ini, kata Menteri Eko, telah banyak memberikan manfaat bagi masyarakat desa, sehingga jumlahnya pun terus mengalami peningkatan setiap tahun.

Menteri Eko menyebutkan, sejak Indonesia merdeka tahun 1945 Indonesia mencatat ribuan desa masuk kategori desa tertinggal sementara pemerintah pusat kala itu lebih banyak memperhatikan desa-desa yang telah maju. “Makanya dulu sering kita dengar ada desa yang maju makin maju, sementara desa tertinggal makin tertinggal,”sebutnya. Menurut Menteri Eko, Dana Desa yang mulai digulirkan oleh Presiden Jokowi sejak tahun 2015 itu dihajatkan untuk melakukan pemerataan pembangunan di seluruh Indonesia hingga ke pelosok-pelosok desa yang dianggarkan melalui APBN. Hal itu dilakukan sebagai upaya pengentasan kemiskinan yang terus terjadi di Indonesia.

Hasilnya, kata Menteri Eko, saat ini Indonesia menempati nomor urut 15 di seluruh dunia dibidang kekuatan ekonomi dunia. Karenanya, program Dana Desa akan terus dilanjutkan, bahkan nilainya akan terus ditingkatkan.“Awalnya kan program ini menjadi pertanyaan bagi sejumlah kalangan, bagaimana mungkin Kepala Desa yang rata-rata berpendidikan rendah bisa mengelola dana yang begitu besar. Tapi Alhamdulillah, dengan melakukan pendampingan ke desa-desa, dana tersebut bisa terkelola dengan baik,” ucapnya.

Bahkan, lanjut Menteri Eko, serapan anggaran Dana Desa itu mencapai 99 persen pada tahun 2018. Dan itu angka yang cukup fantastis. “Belum ada kementerian yang serapan anggarannya mencapai 99 persen. Itu artinya, pengelolaan program dana desa sudah maksimal,” katanya.

Untuk tahun 2019 ini, ungkap Menteri Eko, pemerintah pusat memproyeksikan jumlah Dana Desa hingga Rp 70 triliun. Dana tersebut bisa digunakan untuk pembangunan infrastruktur seperti jalan, jembatan, sarana pendidikan, sarana kesehatan dan beberapa sarana untuk pemberdayaan perekonomian masyarakat di desa.“Kalau program ini terus dijalankan secara optimal, maka tujuh tahun yang akan datang Indonesia akan terbebas dari kemiskinan dan ketertinggalan,”pungkasnya

BACA JUGA :