Sampah selalu dipandang sebagai isu yang terus berkembang di kawasan destinasi wisata, termasuk di kawasan Mandalika yang saat ini menjadi salah satu dari lima KSPN (Kawasan Strategis Pariwisata Nasional).

Dilansir dari www.sampahlaut.id menunjukkan bahwa Mandalika menghasilkan sekitar 215.7 ton/tahun. Dari jumlah tersebut 122.4 ton/tahun merupakan sampah plastik yang dimana sektor rumah tangga dan pariwisata menjadi penyumbang terbesar didalamnya.

Untuk membahas isu tersebut, EcoRanger bersama Jambore Indonesia Bersih dan Bebas Sampah mengadakan talkshow dan mengundang Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat, Hj. Sitti Rohmi Djalilah, Kepala Dinas Pariwisata NTB, H. Yusron Hadi, dan Dinas LHK NTB menjadi narasumber pada talkshow tersebut.

Dengan tema Potret KSPN Mandalika: Menuju Destinasi Super Prioritas yang Ramah Lingkungan dan Bebas Sampah, talkshow yang diselenggarakan secara virtual ini dibuka oleh Fahrian Yovantra selaku Program Manager sebagai perwakilan dari Greeneration Foundation.

Dalam pembukaannya, Fahrian menyampaikan bahwa tujuan dari talkshow ini adalah untuk memberikan edukasi dan informasi terbaru bagi para pemangku kepentingan industri pariwisata terkait pengelolaan sampah yang bertanggung jawab untuk pariwisata yang lebih berkelanjutan.

Wakil Gubernur NTB sebagai narasumber utama menyampaikan bahwa untuk saat ini, pengelolaan lingkungan di NTB menjadi suatu hal yang harus diprioritaskan terutama di daerah Mandalika. Hal ini sejalan dengan misi NTB yang asri dan lestari yang dimana mencakup NTB bersih dan NTB hijau.

Dimana NTB bersih lebih fokus tentang bagaimana penanganan sampah di NTB berbasis gerakan dan bersama-sama membantu mengubah pola pikir masyarakat tentang sampah yang bisa diubah menjadi sumber daya.

“Kita mengolah sampah di NTB dengan membuat bank sampah sebanyak-banyaknya sehingga masyarakat di NTB bisa menyetor sampah-sampah tersebut kepada bank sampah dan menukarnya menjadi uang,” jelasnya


admin

Dinas Pariwisata Provinsi Nusa Tenggara Barat Membangun pariwisata yang berwawasan lingkungan untuk mencapai Pembangunan Kepariwisataan yang Beberlanjutan (Sustainable Tourism).