Kawasan Samota yang terdiri dari Teluk Saleh, Moyo, dan Tambora di pulau Sumbawa Nusa Tenggara Barat atau NTB resmi menjadi cagar biosfer dunia. Peresmian ini dideklarasikan pada hari ketiga pertemuan The 31st Session of The Man and The Biosphere (MAB) Programme International Coordinating Council di Paris, Prancis, Rabu, 19 Juni 2019.

Selain Samota, satu cagar biosfer lainnya di Indonesia yang juga dideklarasikan adalah Togean, di Kabupaten Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah. Pada kesempatan itu dideklarasikan pula cagar biosfer baru di Austria, Po Grande, dan Julian Alps di Italia, Gangwon Eco-Peace dan Yeoncheon di Korea Selatan, Lake Elton di Russia, Alto Turia dan La Siberia and Valle del Cabriel di Spanyol, Lubombo di Eswatini, Nordhordaland di Norwegia dan Roztocze di Polandia.

Wakil Gubernur NTB, Sitti Rohmi Djalilah yang datang mewakili Indonesia, menggunakan kesempatan itu untuk mengenalkan Samota sebagai bagian dari Sunda Kecil. Kawasan ini mencakup dataran rendah hingga ke perbukitan dan gunung-gunung yang ketinggiannya bervariasi dari 0 hingga lebih dari 2.000 meter di atas permukaan laut.

Di sana ada Gunung Tambora yang memiliki ekosistem vulkanik dan erupsinya telah mengguncang dunia di tahun 1815. Kawasan ini adalah rumah bagi berbagai macam flora dan fauna. “Kawasan ini juga memiliki komunitas lokal dengan budaya yang mengesankan,” Sitti Rohmi Djalilah dalam keterangan pers, Kamis 20 Juni 2019.

Demi menerapkan konsep cagar biosfer di Nusa Tenggara Barat (NTB), pemerintah dan masyarakat NTB telah siap dan bersedia mengambil langkah nyata demi menerapkan konsep cagar biosfer ini. Pemerintah Provinsi NTB mengalokasikan 30 persen dari kawasan NTB untuk menjadi area konservasi atau kawasan hijau, termasuk Taman Nasional Gunung Tambora, Taman Wisata Alam Laut Pulau Moyo, Kawasan Perburuan Pulau Moyo, Taman Wisata Laut Pulau Satonda, Kawasan Perairan Liang dan Pulau Ngali.

Memiliki cagar biosfer memberikan akses bagi NTB untuk tampil di forum Internasional. Misalnya, di Forum International Co-ordinating Council – The Man and The Biosphere atau ICC MAB yang terdiri dari 122 negara. Juga Forum World Network of Biosphere Reserve atau WNBR, Forum Southeast Asia Biosphere Reserve Network) (SeaBRnet), di mana Lombok akan menjadi tuan rumah pertemuannya pada tahun 2020 mendatang. Juga ada South-South Cooperation atau SSC.

Bagi pemerintah dan masyarakat, cagar biosfer bermanfaat untuk pengembangan ekonomi berkelanjutan, mempertahankan nilai sosial budaya, juga citra pemerintah. Bagi sektor swasta, cagar biosfer akan memberikan nilai penyediaan komoditas.

BACA JUGA :


admin

Dinas Pariwisata Provinsi Nusa Tenggara Barat Membangun pariwisata yang berwawasan lingkungan untuk mencapai Pembangunan Kepariwisataan yang Beberlanjutan (Sustainable Tourism).