Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia (Kemenparekraf/Baparekraf RI) melalui Deputi Produk Wisata dan Penyelenggaraan Kegiatan (Events) Kemenparekraf/Baparekraf RI telah menyelenggarakan kegiatan “Sosialisasi Panduan CHSE Wisata Selam” di Lombok baik secara Online maupun Offline yang diikut oleh para Diver di Lombok pada hari Jum’at, 6/11/2020.

Indonesia merupakan negara kepulauan yang terletak di garis khatulistiwa dan wilayah coral triangle sehingga kaya akan keanekaragaman hayati biota laut. Berkat kekayaan biota laut yang melimpah, Indonesia berhasil meraih awards sebagai World’s Best Scuba Dive Destination selama 3 tahun berturut-turut (2017-2019).

Sebagai bentuk keberlangsungan dan pengembangan wisata selam di Indonesia Khususnya Nusa Tenggara Barat, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif bekerja sama dengan Divers Alert Network (DAN) Indonesia untuk menyusun handbook Panduan Pelaksanaan Kebersihan, Kesehatan, Keselamatan, dan Kelestarian Lingkungan untuk Usaha Wisata Selam yang secara baku akan menjadi panduan bagi pelaku usaha wisata selam, pekerja, pelanggan dan/atau wisatawan dalam melakukan aktivitas wisata selam.

Sesi diskusi diawali dengan pemaparan panduan CHSE wisata selam yang dibawakan oleh tim penyusun, Abimanyu Carnadie dan Bayu Wardoyo.Keduanya menjelaskan secara singkat isi dari panduan tersebut, Buku panduan protocol Kesehatan (CHSE) wisata selam dapat diunduh di alamat ini: https://chse.kemenparekraf.go.id/handbook

Abimanyu Carnadie menghimbau kepada pelaku usaha wisata selam untuk melakukan sertifikasi CHSE,” memang untuk sementara setifikasi ini bersifat sukarela, namun sertifikasi ini penting agar wisatawan merasa aman dan nyaman untuk membeli paket wisata selamnya”. Bayu Wardoyo menghimbau kepada kalangan industri wisata selam untuk tidak mengakali penerapan protokol Kesehatan yang telah ditetapkan. “Jika tidak diterapkan secara konsisten, wisatawan menjadi tidak nyaman dan aman, akibatnya tingkat kepercayaan terhadap destinasi tersebut turun.

Perlu diketahui Hanya pekerja, pelanggan dan/atau wisatawan dalam kondisi sehat yang diperbolehkan beraktivitas di area usaha wisata selam selain itu Setiap orang yang beraktivitas di area usaha wisata selam harus memakai alat pelindung diri (APD) sekurang-kurangnya masker untuk mencegah keluarnya percikan cairan dari mulut dan/atau hidung (droplet) yang bisa menjadi sarana penularan COVID-19.

Terapkan jaga jarak dengan orang lain minimal 1 meter di tempat kerja/area usaha wisata selam. Jika tidak memungkinkan untuk menerapkan jaga jarak di tempat kerja/area usaha wisata selam, maka pelaku usaha wisata selam dapat melakukan rekayasa administrasi seperti pembatasan jumlah orang, pengaturan jadwal, dan sebagainya, dan/atau rekayasa teknis seperti membuat partisi di antara meja dan tempat duduk, pengaturan jalur masuk dan keluar, dan lain sebagainya.

Pelaku usaha wisata selam menyediakan fasilitas Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) dan/atau hand sanitizer di tempat kerja/area usaha wisata selam dalam jumlah cukup dan mudah diakses oleh pekerja, pelanggan dan/atau wisatawan.

Semua sarana dan prasarana tempat kerja/area usaha wisata selam wajib dibersihkan dan didisinfeksi dengan cairan yang aman dan sesuai menggunakan prosedur yang aman secara rutin sekurang-kurangnya 3 kali sehari dan/atau setiap sebelum dan setelah digunakan.

Pelaku usaha wisata selam menjaga kualitas udara ruangan di tempat kerja/area usaha wisata selam, mengoptimalkan sirkulasi udara, dan mengupayakan agar ruangan bisa dimasuki sinar matahari. Jika di dalam ruangan terdapat air conditioner (AC), maka filter AC harus dibersihkan secara berkala.

Pelanggan dan/atau wisatawan selam wajib mengisi formulir diver medical clearance khusus untuk penyelaman yang mengacu pada Divers Alert Network (DAN) atau lembaga lainnya, serta mengisi formulir Self Assessment Risiko COVID-19 dari Kementerian Kesehatan sebelum melakukan aktivitas penyelaman.

Secara umum para pengelola dive center telah banyak mencari referensi protokol Kesehatan sendiri melalui badan selam internasional seperti DAN maupun PADI dan NAUI, dan menyatakan siap menerima wisatawan dengan menerapakan protokol Kesehatan yang telah ditetapkan pemerintah.


admin

Dinas Pariwisata Provinsi Nusa Tenggara Barat Membangun pariwisata yang berwawasan lingkungan untuk mencapai Pembangunan Kepariwisataan yang Beberlanjutan (Sustainable Tourism).