Sejarah Kelam Gunung Tambora Dua Abad Lalu

T39Letusan Gunung Tambora 200 tahun yang lalu sebagai sejarah kelam bagi masyarakat sekitar bahkan dunia internasional, kini akan kita kenang dan peringati dengan mensuport event-event bertemakan “Tambora Menyapa Dunia 2015”. Dengan event ini diharapkan kepada masyarakat sekitar dan kita semua untuk lebih bersahabat dan peduli terhadap lingkungan sekitar.

Kalau kita kembali ke sejarah, Gunung Tambora mulai bergemuruh dan ‘batuk-batuk’ sejak tanggal 5 April 1815, pada 11 April 1815 ia meletus. Getaran akibat letusannya mengguncang bumi hingga jarak ratusan mil, terasa sampai Eropa dan Amerika Utara. Jutaan ton abu dan debu memenuhi udara, mengubah siang menjadi gelap pekat. (lebih…)

ISTANA MERDEKA

Istana Merdeka adalah yang paling diingat khalayak diantara enam Istana Kepresidenan meski jelaslah ia bukan yang paling tua, paling megah, atau paling indah. Istana Negara yang berada di belakang dan satu halaman dengannya, jauh lebih dulu dibangun. Istana Bogor jelas lebih luas dan megah. Sementara Istana Yogyakarta mempunyai peran paling besar dalam revolusi kemerdekaan. Pastilah khalayak tahu bahwa Istana Merdeka adalah tempat kediaman resmi Presiden, khususnya Presiden pertama, dan tempat berlangsungnya upacara-upacara kenegaraan. Ia mendapat tempat khusus di hati rakyat karena bernama Merdeka – perlambang kemenangan perjuangan bangsa. Nama itu menandai berakhirnya penjajahan di Indonesia dan mulainya pemerintahan oleh bangsa sendiri. (lebih…)

ISTANA BOGOR

Ketika Istana Buitenzorg pertama kali didirikan pada pertengahan abad ke 18, wilayah yang kelak bemama Bogor masih berupa sebuah kampung. Bantaran sungai Cisadane dan Sungai Ciliwung yang sejuk dan tenang itu semula hanya dihuni oleh beberapa warga yang menggarap lahan subur di sekitamya. Pada masa itu, daerah yang dikelilingi oleh Gunung-gunung Salak, Pangrango, Pancar dan Kapur ini telah menjadi bagian (ommelanden) dari “district Jacarta” tidak lagi tersisa dari kejayaan masa lalulnya sebagai pusat Kerajaan Sunda. Ketika Gubemur Jenderal Hindia-Belanda Gustaaf Willem baron Van Imhoff menemukan tempai itu dalam suatu perjalanan inspeksi ke daerah Cianjur, ia mencatatnya sebagai Kampung Baru yang terletak 39 paal dari Batavia, 290 meter di atas permukaan laut. (lebih…)

ISTANA YOGYAKARTA

Tak ada Istana Kepresidenan yang berperan begitu penting di masa revolusi kemerdekaan kecuali Istana Yogyakarta. Ketika Belanda melakukan agresi militer pada 3 Januari 1946 untuk menduduki kembali bekas jajahannya, pemerintahan Republik Indonesia terpaksa mengungsi ke Yogyakarta, di mana Presiden Sukarno dan keluarganya menempati sebuah rumah yang pernah menjadi kediaman resmi residen Belanda. Bangunan itulah yang kini menjadi Istana Yogyakarta. Dalam sejarahnya bangunan yang lebih termasyhur dengan nama Gedung Agung di kalangan masyarakat setempat itu didirikan dengan memperhitungkan keberadaan sebuah benteng militer yang terletak tepat di depannya, di seberang jalan. Benteng yang dibangun pada 1767 itu sekarang masih tegak sebagai cagar budaya di sudut Jalan Malioboro dan Jalan Ahmad Yani yang bersebelahan dengan Pasar Beringharjo.Mula-mula benteng itu bernama Rustenburg. Setelah gempa bumi pada 1867 ia dibangun kembali dan diganti namanya menjadi Vredenburg. Kedua nama itu mempunyai arti yang hampir mirip, yaitu kastil (benteng) damai. Nama yang sungguh berlawanan dengan fungsi bangunan! Sebab benteng itu dibangun dalam jarak tembak meriam ke arah Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat untuk mencegah kemungkinan pembangkangan di lingkungan keraton Yogyakarta. (lebih…)

ISTANA CIPANAS

Terletak di kaki Gunung Gede, bangunan yang kini menjadi Istana Cipanas sejak awal benar-benar tempat tetirah bagi para Gubernur Jenderal, bukan gedung pemerintahan atau rumah dinas seperti Istana Bogor atau Istana Merdeka. Pemandian air panas, sumber air mineral, serta udara pegunungan yang bersih, makin menyempurnakan kompleks itu sebagai tempat persinggahan Read more…