Setelah bilah keris selesai dibuat, disitulah tugas seorang meranggi diperlukan. Bergeser sedikit dari rumah Muhlis, seorang meranggi atau pembuat warangka bermukim. Adalah Gufron, yang telah menggeluti usaha rumahan ini sejak 2008-2009 silam.

Tim Kadispar NTB disambut dengan baik oleh Gufron dan keluarga. Sambil menyeruput teh dan kopi panas, perbincangan soal keris semakin hangat dengan cerita dari Gufron, Sang Meranggi.

Dari sekadar rasa senang membuat kerajinan seperti pemaje (pisau kecil) saat tamat dari bangku sekolah menengah pertama, Gufron akhirnya memilih usaha pembuatan keris yang dirasa lebih menjanjikan. Tentu keberaniannya berbuah manis karena sarung keris buatannya bahkan sudah sampai ke Australia, Eropa, hingga Amerika.

Dengan menggunakan bahan kayu ireng/kayu berora, Gufron mampu membuat beragam jenis warangka khas Lombok seperti Kandikan, Kojongan, dan Jamprahan. Untuk harga sendiri bervariasi mulai dari 2 juta hingga 5 jutaan tergantung dari motif apa yang akan muncul dari kayu yang dipakai oleh meranggi.

Jumlah bebet pada handle keris pun akan menentukan harga jual dari keris itu. Semakin banyak bebet, semakin tinggi pula harganya. Uniknya satu warangka bahkan bisa melebihi harga bilah kerisnya lho, Sob!

Gufron yang juga menguasai pembuatan warangka Bali dan Jawa ini mengakui bahwa Lombok kaya akan ragam keris. “Lombok banyak ragam. Paling kaya (akan ragam keris) dia,” ungkap Gufron saat ditanyai Kadispar tentang ragam keris Lombok dibanding yang lain.

Dengan menyasar para pengoleksi keris, Gufron menceritakan bahwa dampak pandemi bagi usahanya adalah semakin banyak yang beli dengan lebih banyaknya orang yang diam di rumah. Sebagai home industry yang berbasis made by order, Gufron dan adiknya mampu mengerjakan satu warangka dengan rata- rata pengerjaan 3-4 hari. Sedangkan yang ukir bisa sampai 1 minggu pengerjaan.

Sebelum beranjak pergi, Kadispar NTB yang terlihat antusias, ingin memesan satu keris yang dibuat Gufron.

BACA JUGA :


admin

Dinas Pariwisata Provinsi Nusa Tenggara Barat Membangun pariwisata yang berwawasan lingkungan untuk mencapai Pembangunan Kepariwisataan yang Beberlanjutan (Sustainable Tourism).