Perjalanan terakhir dari keris Lombok adalah samplengan. Bertolak ke Kamasan, yang berada di Kecamatan Selaparang, Mataram, Kadispar NTB menemui salah seorang pengrajin samplengan keris.

Dalam balutan pakaian adat, Pak Ahya beserta dua pegawainya yang sedang menatah samplengan menyambut kedatangan Kadispar NTB sore itu.

Proses keris Lombok sebenarnya bisa sampai hanya pada warangka saja. Namun, samplengan bisa mempercantik tampilan dengan balutan emas, atau perak, hingga batu mulia seperti rubi. Dengan bahan-bahan yang bernilai tinggi tadi, harga samplengan bisa mencapai jutaan rupiah. Tentu tergantung dari kebutuhan calon pembeli.

Menjawab rasa penasaran tim, Ahya mendemonstrasikan proses pembuatan samplengan secara garis besar dari peleburan bahan (perak). Lempengan yang telah didinginkan di air kemudian dipipihkan dengan mesin roll sehingga membentuk plat. Plat ini kemudian digambar/dilukis dengan pensil oleh Ahya sendiri.

Proses penting selanjutnya adalah penatahan. Penatahan ini dilakukan di atas tatakan unik berwarna hitam yang terbuat dari kayu yang dilapisi getah damar yang dicampur tepung areng dan minyak kelapa.Hasil penatahan ini yang kemudian dipasang pada keris.

“Fungsi tepung areng adalah agar getah tidak keras. Sedangkan fungsi minyak kelapa di sini untuk memudahkan pengangkatan logam yang menempel,” jelas Ahya di sela-sela demonstrasinya.

Menggeluti bidang ini selama lebih kurang 20 tahun, kecakapan Ahya tentu sudah tidak diragukan lagi. Kepiawaiannya dalam menggambar gurat-gurat motif samplengan patut diacungi jempol. Motif-motif pesananan pelanggan ini, menurut Ahya biasanya ditentukan olehnya.

Namun, pria murah senyum ini mengatakan jika pelanggan juga bisa customized motif pilihan mereka sendiri.Ditemui di akhir kunjungan, Kadispar NTB mengungkapkan kesannya.

BACA JUGA :


admin

Dinas Pariwisata Provinsi Nusa Tenggara Barat Membangun pariwisata yang berwawasan lingkungan untuk mencapai Pembangunan Kepariwisataan yang Beberlanjutan (Sustainable Tourism).